Friday, June 29, 2007

Boikot Produk Yahudi!

Perjuangan melawan Yahudi takkan pernah padam dalam sanubari para mujahid. Sebuah perjuangan yang luar biasa melawan tirani kezhaliman dalam membebaskan islam dari belenggu kemunafikan demi tercapainya negara Islam nan jaya.

Yahudi adalah bangsa yang tidak pernah jera dalam menghabisi umat Islam. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari sejarah dalam kitabullah yang secara jelas telah menyebutkan bahwa orang Yahudi adalah suatu kaum yang paling sering melanggar perjanjian. Bahkan, lebih dari itu mereka akan menghalalkan segala macam cara untuk mewujudkan cita-citanya.

Menurut Menlu Mesir, Ahmad Mahir, Yahudi –Amerika dan Israel- berusaha menipu dunia internasional dan membunuh perdamaian serta menggiring kawasan Timur Tengah kedalam kubangan kehancuran dan peperangan. Beliau menyampaikan kekesalannya atas aksi kriminal yang digelar Israel baru-baru ini. Antara lain, pembunuhan Syekh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Rantisi. Ahmad Mahir menambahkan, tindakan pengecut Israel ini makin memperjelas isu-isu yang menyeruak tentang tujuan dibalik aksi-aksi kekerasan tersebut.

Hizbullah, Libanon mengatakan, Amerika bertanggung jawab langsung dalam peristiwa pembunuhan pemimpin Hamas akhir-akhir ini. "Ini merupakan tamparan menyedihkan bagi negara-negara Arab yang dikadali oleh khayalan perdamaian dengan Israel. Hizbullah mengajak kekuatan independen internasional yang tidak tunduk di bawah Amerika berdiri membela Palestina yang teraniaya dan mencegah pembunuhan massal. Ini lebih efektif dari pada mengeluarkan kecaman karena tidak akan menggetarkan Israel. Amerika dianggap bertanggung jawab langsung karena merekalah yang memberikan dukungan terhadap Israel secara materi dan non materi. Apa yang dilakukan Sharon, menurut Hizbullah, hanyalah praktek dari gagasan Bush pada Rabu (14/04). Karenanya, perlawanan -embargo total produk-produk negara zionis- merupakan jalan satu-satunya melawan Israel dalam meraih kemerdekaan Palestina.

Para ulama Hamas, Ikhwanul Muslimin dan berbagai organisasi perjuangan Muslimin di Timur Tengah telah menyerukan boikot terhadap produk-produk yang mendukung negara Zionis Israel. Syeikh Yusuf Qaradhawi telah mengeluarkan fatwa yang sangat rinci mengenai seruan ini. Beliau mengatakan, haram hukumnya umat Islam membeli produk dan barang dagangan Yahudi dan Amerika dan menganggapnya itu sebagai salah satu dosa besar. Dia menambahkan, bahwa jihad sekarang ini hukumnya fardhu `ain, karena Yahudi menghalalkan segala apa yang diharamkan, tidak mengindahkan norma-norma moral dan nilai-nilai kemanusiaan serta hukuman internasional.

Yusuf al-Qarodhawi menyeru kaum Muslimin untuk mendukung intifadah (kebangkitan) di Palestina. Beliau yang terkenal dengan karya-karya di bidang fiqh, ibadah, aqidah dan dakwah, menegaskan umat Islam perlu bersatu di dalam menangani masalah Palestina, sehingga umat Islam bebas dari belenggu Zionis dan pada akhirnya bisa berjaya karena menguasai tanah air secara penuh. Salah satu bentuk sokongan bagi perjuangan Palestina, menurut beliau ialah dengan melakukan embargo total terhadap semua produk Israel dan AS. "Satu Pound (mata uang Mesir_red) Anda belanjakan untuk membeli produk Israel dan AS, sama dengan satu peluru yang akan merobek tubuh saudara Anda di Palestina," katanya.

Dalam sebuah dialog ba'da Jum'at (27/10/2000) di Masjid Umar Bin Khattab, Qatar, pakar Islam ini merasa sangat terkejut dengan sikap sebagian umat Islam yang menyatakan ketidakmampuan mereka hidup tanpa produk Amerika. "Saya terkejut ketika ada sebagian daripada umat Islam yang mengatakan mereka tidak bisa hidup tanpa Pepsi, Coco-Cola, Pizza Hut, atau peralatan modern produk Amerika lainnya," katanya.

Seterusnya beliau mengatakan, "Siapa yang menganggap enteng masalah pemboikotan produk AS, dan membayar walaupun satu pound untuk membeli produk tersebut, maka sama dengan memberi mereka (orang Amerika dan Israel_red) satu peluru yang akan bersarang di dada saudaranya di Palestina".

Tanpa disadari, kita telah larut dalam kehidupan materialistik dan kapitalistik dengan berfoya-foya di Mc Donalds, KFC, Burger King, dan sebagainya, tanpa memikirkan kemana uang itu akan dibelanjakan? Adalah sesuatu yang wajar, bila setiap Muslim harus bertanggung jawab dengan kelangsungan hidup saudaranya. Jangan menjadi orang seperti yang digambarkan Allah dalam Al-Quran; memiliki mata tapi tidak digunakan untuk melihat, memiliki telinga tapi tidak dipakai untuk mendengar, memiliki hati tapi tidak lagi dapat merasai. Mereka -Amerika dan Israel- telah menjadikan kita sebagai pelanggang yang buta, yang rela membayar harga suatu barang untuk membiayai senjata mereka dalam mendukung aksi keganasan dan kebiadaban di dunia Arab dan Islam. Hal itu menurut Yusuf Al-Qaradhawi akan menambah saham bagi negara Zionis untuk melanjutkan agresinya ke negara-negara Islam lainnya.

Yusuf Qaradhawi kemudian menambahkan, setidak-tidaknya dukungan seorang Muslim terhadap perjuangan Palestina bisa diwujudkan dengan niat jihad dan mati syahid untuk membela Palestina. "Siapa yang tidak pernah terlintas di hatinya untuk berjihad, maka ia mati dalam keadaan munafik," katanya. Jihad yang ditegaskan dalam Al-Qur'an adalah jihad dengan harta dan jiwa. Maka, kalau tidak mampu dengan jiwa, hendaklah seorang Muslim berjihad dengan hartanya. Salah satu bentuk jihad dengan harta, tambahnya, adalah dengan melakukan pemboikotan total terhadap semua produk AS dan Israel.

Hal senada juga disampaikan tokoh-tokoh Islam lainnya, seperti Syaikh Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, Syaikhul Azhar, yang selama ini terkesan lentur dalam setiap pernyataannya, kini lebih tegas lagi akan kewajiban memerangi musuh-musuh Islam, "Apabila kamu tidak mampu memerangi mereka (musuh-musuh Islam, Israel dan Amerika Serikat) dengan senjata, maka minimal lawanlah dengan memboikot barang-barang dan produk-produk mereka."

Banyak tokoh Islam dunia yang mendukung pemboikotan produk-produk Israel dan Amerika, bahkan mengeluarkan fatwa untuk merespon tindak kejahatan yang mereka lakukan di bumi Palestina. Mereka adalah Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Dosen Syariah Universitas Al Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam) dan lain-lain. Dan fatwa yang ditandatangani tidak kurang dari 70 ulama Sudan dan negara-negara Islam lainnya, seputar wajibnya memboikot barang-barang dan produk-produk Imperialis Israel dan Amerika Serikat.

Perhimpunan Muslimin Amerika untuk Yerusalem telah mengeluarkan pernyataan pers berupa seruan untuk memboikot perusahaan kosmetik Estee Lauder. Ronald Lauder, CEO Estee Lauder International adalah seorang Zionis yang bekerja sama dengan lembaga Israel yang kegiatan utama menjarahi tanah-tanah Palestina, bernama Dana Nasional Yahudi (Jewish National Fund). Lauder juga secara terang-terangan menentang hak orang-orang Palestina untuk kembali ke kampung halaman.

Organisasi Lingkungan dan Anti Millennium Sedunia mengajak semua rakyat yang risih dengan ulah AS untuk tidak mengkonsumsi minuman ringan AS, terutama minuman Coca-Cola, pada hari Senin, 22 Juli 2002. Ir. Ahmad Bahauddin Sha'ban, Ketua Umum Komite Mesir untuk Pemboikotan Israel dan Amerika mengatakan: "Kami mengajak semua penduduk Mesir dan Arab, juga umat Islam seluruhnya untuk mendukung ajakan ini. Terutama produk Coca-Cola yang merupakan simbol kecongkakan Amerika yang harus sama-sama kita lawan."

Komite Mesir menganggap bahwa aksi boikot ini tidak hanya sebatas memboikot produk-produk Barat demi mendukung saudara-saudara kita di tanah terjajah, namun lebih dari itu bisa mendukung kebangkitan nasional, menggairahkan cinta produk dalam negeri, peningkatan SDM, perusahaan dalam negeri dan bisa memotivasi naiknya produk Mesir.

Ada banyak LSM internasional yang menjadi sponsor gerakan boikot besar-besaran ini. Di antaranya Pita Hijau (Green Ribbon) dan Komisi Hak-hak Azasi Manusia Islam (Islamic Human Rights Commission), Islamic Party of Britain, Forum Hak-hak Azasi Muslim Internasional (International Muslim Rights Forum: IMRF) yang bermarkas di Teluk. Lembaga yang terakhir ini telah melancarkan sebuah kampanye boikot besar-besaran pada produk-produk Amerika terkenal. Produk-produk itu adalah maskapai penerbangan TWA yang kini sudah bangkrut dan tutup. Pakaian jeans, Levi's dan Wrangler, industri perbankan Citibank, minuman ringan Coca Cola, Sprite, Fanta, Maxwell House Coffee, serta produk-produk kebutuhan bayi Pampers. Mobil-mobil buatan GM, Ford, DaimlerChrysler, peralatan kosmetik Revlon, Estee Lauder. Kartu telepon internasional AT&T, rokok Marlboro, produk pembersih Ariel serta produk telepon genggam yang sedang laris di tanah air kita, Nokia.

Produk-produk Amerika perlu diboikot, karena negara ini ikut membiayai negara Israel berupa bantuan keuangan tiap tahun. Bahkan sebagian anggota Kongres Amerika pada tahun 2002, pernah mengusulkan agar Presiden George W Bush menaikkan bantuan luar negeri kepada Israel. Maka disetujuilah sebanyak US$ 2,04 miliar untuk bantuan militer dan US$ 730 juta bantuan keuangan, jumlah ini hampir 20% dari total bantuan luar negeri Amerika ke seluruh dunia.

Bentuk gerakan boikot yang paling sederhana adalah dengan tidak membeli produk-produk buatan Amerika dan Israel atau produk dari negara manapun yang berhubungan dengan Israel. Hubungan itu bisa berbentuk kerja sama dagang, investasi, maupun pengembangan produk. Setiap Muslim bisa menahan diri untuk tidak membeli kebutuhan sehari-hari berupa makanan, minuman atau pakaian yang bertanda 'Made in Israel' atau 'Made in USA' atau merek-merek yang memang dikenal berasal dari jaringan kedua negara itu.

Misalnya, boikot terhadap perusahaan retail multinasional Marks & Spencer, asal Inggris, segera terjadi begitu perusahaan itu diketahui melakukan perdagangan dalam jumlah yang sangat besar dengan Israel. M & S juga secara sengaja mempromosikan perdagangan antara Inggris dan Israel. Bahkan di markasnya di London, secara terang-terangan M & S mengumumkan bahwa sebagian besar keuntungan yang didapat dari ribuan outletnya di seluruh dunia pada hari Sabtu dan Minggu, akan disumbangkan bagi Israel.

Amerika menjadi sasaran boikot, juga karena negara itu secara `istiqamah' menjalankan kebijakan membantu Israel mati-matian. Baik dari segi keuangan, militer, politik dan lain-lain. Boikot ini bisa dilakukan dengan tidak membeli produk-produk dari restoran fast-food Amerika yang memang terkenal di seluruh dunia. Misalnya Mc Donald's, Kentucky Fried Chicken (KFC), A & W dan lain-lain. Tingkat efektivitas boikot seperti ini baru akan terasa bila dilakukan selama beberapa tahun, dan tersedia cukup alternatif agar orang tak mudah tergoda untuk membeli produk-produk Amerika itu.

Berikut ini adalah sebagian contoh produk-produk Israel-AS yang harus kita boikot. Antara lain: Makanan dan minuman, seperti: Kentucky "K.F.C", Mc Donald's, Burger King, Chilli's, Tgi Friday, Pizza Hut, Texas Fried Chicken, California Fried Chicken, Dunkin Donat's, Pepsi, Coca-Cola, American Can: Harvest, Heinz, Chicklets, dan La Poire (American Flour). Barangan Make-Up, seperti: Revlon Make-Up. Pakaian, seperti: Calvin Klein, Levi's, Ralph Lauren, dan American Shoes: Nike, Adidas, dan Reebok. Hiburan, seperti: American Movies dan Showtime Network. Lain-Lain, seperti: Ariel, Lux, Sun Silk, Pampers, Pert Plus, American Cars, Brisk, Pepsodent,Motorola, Hardee's, Amway dan Sahkley. American Hotels, seperti: Intercontinental, Marriott, Hilton, dan Sheraton. Credit Card: Citibank dan American Express. American Cigarretes, seperti: Malboro, Pall Mal, dan Lucky Strike.

Ada beberapa keberhasilan yang perlu dicatat dan dijadikan sebagai pelajaran. Supermarket Sainsbury's asal Inggris terpaksa menutup semua outletnya di Mesir, sesudah beberapa bulan diboikot, meskipun perusahaan itu membantah bahwa mereka mendukung negara Zionis.

Maskapai penerbangan American Airlines yang hendak mengambil alih TWA (Trans World America) disarankan untuk menutup jalur penerbangannya ke Tel Aviv, meskipun jalur itu termasuk jalur yang laris. Lobi Zionis meyakini hal itu disebabkan meluasnya gerakan boikot terhadap semua perusahaan Amerika yang berhubungan dengan Israel.

Sebuah laporan di Amerika menyatakan bahwa kampanye boikot terhadap produk-produk Amerika di negara-negara Arab telah mengakibatkan kerugian sampai 40% dalam dua bulan terakhir ini. Laporan itu dikeluarkan oleh Dewan Nasional Amerika untuk Hubungan AS-Arab, menyatakan bahwa penjualan barang-barang seperti mobil, minuman dan makanan di kawasan Teluk telah menurun sampai 40% karena kampanye itu.

Laporan yang disusun oleh John Anthony, ketua dewan itu, mengatakan bahwa kampanye tersebut berhasil karena ceramah-ceramah agama dan berbagai organisasi mahasiswa telah menyebarluaskan daftar produk-produk Amerika baik di mimbar-mimbar, kampus, sekolah-sekolah, internet, dan SMS. Laporan itu dipublikasikan surat kabar Uni Emirat Arab 'Al Ittihad', 21 April lalu, dan mengatakan bahwa sebagian perusahaan restoran fast-food itu telah mengumumkan bahwa sebagian dari keuntungan mereka akan disumbangkan kepada rakyat Palestina. Beberapa perusahaan mobil Amerika juga telah menurunkan harga jual mobil-mobilnya.

Jaringan restoran Mc Donald's dan Kentucky Fried Chicken, dilaporkan yang paling parah terkena akibat kampanye itu. Karena kampanye boikot bukan saja diikuti oleh warga Arab setempat tetapi juga oleh wisatawan dan pekerja asing. Laporan itu mengatakan bahwa masa depan kepentingan Amerika di kawasan Teluk mengkhawatirkan, karena kampanye boikot itu diperkirakan juga bakal menyentuh bentuk-bentuk perdagangan lainnya seperti pertahanan, investasi, kerjasama teknologi, waralaba. Apalagi beberapa saat sebelum selesai dari jabatannya Presiden Bill Clinton menyatakan dukungannya bila Israel mau memindahkan ibukotanya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Boikot mereka sekarang! Sekarang atau peluang ini tidak muncul lagi selamanya? Dunia Arab dan Islam harus bersatu agar menjadi kuat. Bangunkanlah ekonomi dan siapkan senjata untuk menghancurkan mereka!

Bagaimana dengan di Indonesia? Kita tunggu gerakan boikot besar-besaran itu. Wallahu a'lamu bissawab.
_______
Disarikan dari swaramuslim.com, infopalestina.com, islamonline.com dan alislam.or.id

Oleh Muh. Fathi Nismara
Pernah dimuat di Majalah Revival edisi III.


No comments: